Asyrof Syarifuddin, S.H.I. : Perjuangan Meraih Keadilan

Berita Utama
Typography

PA-SEKAYU.GO.ID - Pagi itu Fitri bergegas dan bersiap-siap. Putri semata wayangnya juga sudah didandaninya dengan cantik, bekal dan satu tas pakaian ganti untuk dirinya, anaknya, serta ibunya juga telah disiapkan. Bersama tetangganya berangkatlah mereka berempat menuju Sekayu. Besok ia menjalani persidangan di Sekayu. Benar, baru besok jadwal persidangan perkara Fitri, namun ia harus bersiap dan berangkat sehari sebelumnya dari tempat tinggalnya.

Ia tinggal di daerah Jalur, wilayah perairan di Kabupaten Banyuasin. Untuk menuju kota Sekayu, setelah berkendara darat, rombongannya harus menaiki speedboat (perahu motor) yang hanya ada/lewat pada jam-jam tertentu, menyusuri Sungai Musi selama paling tidak 2 sampai 3 jam agar sampai Kota Palembang. Dari Palembang ia masih harus menyarter mobil atau naik travel selama 3 jam -itu pun jika tidak macet-, menjelang sore sampailah di Sekayu, ibukotanya Musi Banyuasin, di mana mereka harus mencari penginapan malam itu untuk beristirahat.

Barulah pada pagi harinya Fitri dan rombongannya menjalani persidangan. Begitu juga ketika pulang, ia harus “mengejar” speedboat yang hanya berangkat pada pukul 2 siang (14.00). Jika terlewati, mau tak mau pilihannya adalah menginap lagi di Palembang untuk ikut perahu jadwal pagi atau melalui jalan darat yang lebih sering dihindari masyarakat setempat karena jalurnya yang ekstrim, apalagi jika sudah mulai musim hujan.

Baca Juga : Ketua PA Sekayu : Jadikan Kritikan Sebagai Perbaikan Pelayanan

Setidaknya itulah gambaran nyata, bagaimana masyarakat berjuang untuk memperoleh keadilan di wilayah yurisdiksi Pengadilan Agama Sekayu yang meliputi 2 kabupaten, Banyuasin dan Musi Banyuasin. Sebelum tanggal 22 Oktober ketika Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia meresmikan beroperasionalnya pengadilan-pengadilan baru, Pengadilan Agama Sekayu masih menerima pendaftaran perkara dari masyarakat Banyuasin, yang sekarang menjadi yurisdiksi Pengadilan Agama Pangkalan Balai. Setelah adanya Pengadilan Agama Pangkalan Balai, diharapkan akses masyarakat Kabupaten Banyuasin terutama di wilayah perairan untuk mendapat keadilan menjadi lebih dekat, dan tentu saja lebih murah biayanya.

Kemudian bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Musi Banyuasin sendiri, masih ada yang harus menjadi perhatian utama yaitu masyarakat di wilayah Kecamatan Lalan, yang merupakan wilayah perairan, di mana akses ke Sekayu juga harus dengan berspeedboat lebih dulu ke Palembang selama 4-5 jam. Ketika tulisan ini diunggah, jumlah pendaftar dari kecamatan Lalan pada tahun 2018 ini tercatat hanya sebanyak 13 perkara atau berkisar 1% dari jumlah perkara masuk di Pengadilan Agama Sekayu). Sedikitnya jumlah pihak yang mendaftar tersebut bisa jadi karena terkendala letak geografis domisili mereka, bukan karena rendahnya kesadaran hukum mereka.
Mereka inilah yang mengharapkan adanya kebijakan dan kebijaksanaan agar mereka bisa berperkara di Pengadilan Agama yang terdekat dari domisili mereka, alih-alih di Pengadilan Agama Sekayu yang aksesnya paling tidak 8 jam perjalanan jalur air dan darat, mereka berharap punya pilihan untuk dapat mengajukan perkaranya di Pengadilan Agama Palembang atau Pengadilan Agama Pangkalan Balai.

| Humas Pengadilan Agama Sekayu