Dari Astaghfirullah Hingga Alhamdulillah

Berita Utama
Typography

PA-SEKAYU.GO.ID – Sore itu, Selasa 9 April 2019, Pengadilan Agama Sekayu mendapat berkah dengan kehadiran Ketua Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Selatan, YM. Drs. H. Endang Ali Ma’sum, S.H., M.H. beserta rombongan di sela perjalanannya ke Lubuk Linggau. Rombongan tiba di Sekayu sekira pukul 15.00 WIB. Kunjungan beliau ini merupakan kunjungan perdana setelah dilantik sebagai KPTA Sumsel beberapa waktu lalu. Pada kunjungan ini Ketua PTA Sumsel didampingi Panitera PTA, Drs. H. Pahri Hamidi, S.H. dan Sekretaris PTA, Drs. Edison, M.A.

Setelah beristirahat sejenak di ruang Ketua, segera Ketua PTA Sumsel, Drs. H. Endang Ali Ma’sum, S.H., M.H., bergegas menuju meja PTSP dan ruang-ruang pelayanan di PA Sekayu, yang kemudian mendapat apresiasi yang sangat baik dari Ketua PTA dan rombongan seraya menekankan untuk tetap selalu melakukan pelayanan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya.

Seolah tidak ingin waktu terbuang percuma, Ketua PTA Sumsel sore itu juga melakukan pembinaan kepada seluruh pegawai PA Sekayu yang dilaksanakan di Aula/Ruang Pertemuan PA Sekayu. Dijelaskannya, bahwa dalam bekerja ada nilai-nilai yang harus dipedomani. Beberapa nilai tersebut yaitu Disiplin tinggi, Integritas, profesional.

Baca juga: Integritas, Jalan Menuju Kewibawaan PA Sekayu

Disiplin berarti ketaatan pada norma/kaidah yang diyakini sebagai panggilan luhur untuk mengemban amanah yang salah satu hasilnya adalah public trust (rasa percaya masyarakat) kepada Pengadilan Agama. Integritas berarti kepribadian yang jujur dan karakter yang kuat menahan godaan dan menolak segala bentuk intervensi. Sedangkan profesional merupakan sikap moral dengan tekad melaksanakan pekerjaan dengan kesungguhan didukung keahlian atas dasar pengetahuan, ketrampilan dan wawasan yang luas.

Foto Bersama KPTA Sumsel setelah pembinaan

 

Ketika beliau menyampaikan mengenai integritas, beliau berpesan dan menyampaikan joke (guyonan) jika seorang pegawai tidak memiliki integritas, atau integritasnya rendah, mereka biasanya akan muncul di televisi atau media massa mengenakan rompi oranye. Penjelasan beliau ini disambut senyum lebar dan tawa renyah peserta yang berada di ruangan. Beliau juga mengingatkan kemungkinan adanya suap/gratifikasi yang tidak terlihat, dan ini yang patut diwaspadai oleh aparatur Pengadilan Agama, yaitu  “gratifikasi asmara”. Dan yang paling berpeluang mendapat godaan gratifikasi ini adalah para Panitera dan Jurusita yang sering berhadapan langsung dengan para pihak.

Baca juga: Deklarasi Zona Integritas, Pemkab Muba Mendukung dan Memberi Apresiasi PA Sekayu

Di sinilah ketika seorang dihadapkan dengan gratifikasi asmara dan dia berintegritas, maka diucapkanlah “Astaghfirullah”, tetapi ketika semakin menipis integritasnya dan beberapa kali dihadapkan padanya gratifikasi asmara tersebut, bisa jadi, dia di awalnya mengucapkan “Astaghfirullah”, bertemu yang kedua kali sudah berubah menjadi “Subhanallah” dan bertemu ketiga kali diucapkannya “Alhamdulillah”. Keadaan dari “Astaghfirullah menjadi Alhamdulillah” inilah yang tidak diharapkan, karena berintegritas berarti menjaga untuk tetap dalam koridor aturan dan norma yang baik dan selalu menahan diri untuk tidak tergoda apabila berhadapan dengan berbagai macam gratifikasi. Sehingga sekali mengucap “Astaghfirullah”, dia tetap akan mengucapkan “Astaghfirullah” jika menghadapi kondisi yang serupa.

(Humas PA Sekayu)