Waspadalah Gratifikasi Asmara, Pesan KPTA Palembang

Berita Utama
Typography

PA-SEKAYU.GO.ID – Ada yang menarik  dalam pembinaan Ketua Pangadilan Tinggi Agama Palembang, kemarin tanggal 09 April 2019 di aula pertemuan Pengadilan Agama  Sekayu.  Poin menarik itu adalah terkait  penggunaan istilah yang beliau sampaikan kepada seluruh jajaran  PA. Sekayu.  Istilah itu, yang beliau sendiri sepertinya yang mempopularitaskannya, yang beliau sampaikan secara langsung itu, dihadapan seluruh jajaran  PA Sekayu  itu, sebenarnya, cukup asing juga didengar, tapi menarik perhatian seluruh pegawai yang hadir saat itu. Istilah itu adalah gratifikasi asmara.

Selama ini, istilah yang lebih familiar dari istilah gratifikasi asmara itu adalah gratifikasi seks. Istilah itulah yang akhir-akhir ini lebih booming. Gratifikasi, adalah pemberian, yang dalam arti luas meliputi segala hal yang bisa dan dapat diberikan, termasuk didalamnya memberikan hadiah berupa seorang wanita cantik dan seksi yang siap melayani kebutuhan seks seseorang. Mendengar bahasa seks itu, cara pandang dan pikiran kita itu, yang terbayang pertama kalinya mengarah pada sesuatu yang bersifat seksualitas dan berkinotasi hasrat seksual.

Sore itu, Ketua PTA Palembang, menyampaikan pembinaannya terkait  gratifikasi itu, secara lebih spesifik, ia secara jelas berbicara tentang gratifikasi asmara. Terkait dalam tugas pokok dan fungsi kita, kita selalu di hadapkan pada godaan-godaan, imbuhnya. Godaan itu ada yang bersifat materi, dan ada pula yang bersifat immateri. Kalau godaan yang bersifat materi itu, keterkaitan dengan sejumlah uang, seperti korupsi, endingnya, itu banyak  yang pake rompi orange, yang menjadi tahanan KPK itu.

Baca juga: Dari Astaghfirullah Hingga Alhamdulillah

Ada pula godaan yang bersifat immateri, apa itu? Tanya beliau. Salah  satunya ada gratifikasi asmara. Gratifikasi asmara itu berwujud wanita yang cantik, ayu, jelita dan bahenol, itu disampaikan kepada kita. Terkadang tanpa disadari, seorang wanita yang memberikan  dirinya, dan melayani kita, apa yang kita mau, diberikan semua kepada kita, kalau itu sebenarnya gratifikasi. Kadang  kita hanya menganggapnya sebagai pacar saja, atau selingkuhan saja, itu sebenarnya sudah termasuk gratifikasi.

Hal ini sudah sering saya sampaikan dalam setiap pembinaan, berhati hatilah  dengan kasus seperti ini. Kalau di instansi kita ini, penyakitnya yang paling banyak  itu ada pada panitera dan jurusita, karena mereka inilah yang langsung bisa berhubungan dengan para pihak. Apalagi jurusita, pada satu sisi mengantar panggilan, tapi pada sisi lain, sambil ngantar panggilan itu, alih-alih memberikan nasihat kepada mereka-mereka yang lagi galau  itu, yang dengan segala persoalan dan masalah rumah tangganya itu, lalu dengan berbagai modus mencoba mencari simpati, dan gayungpun bersambut, saat itulah sering terjadi hubungan yang tidak diharapkan.

Baca juga:Gerak Cepat, PA Sekayu Evaluasi Pelaksanaan APM, ZI dan Penyelesaian Perkara

Dalam kaitan  itu, Ketua PTA menegaskan, agar setiap aparatur PA Sekayu, selalu menjaga integritas dengan baik, dan jangan sampai terjerumus terhadap hal-hal seperti tersebut di atas. Wajar saja jika Ketua PTA menekankan persoalan ini secara serius, karena persoalan ini terkait  erat dengan nama instansi, bukan pelakunya saja yang terkenal, bahkan instansinya itu justru akan  lebih terkenal dan selalu disebut-sebut sejagat dunia peradilan.

(Humas PA Sekayu)