23
Sen, Sep
0 New Articles

Akhiri Kegiatan Ramadhan, Ketua PA Sekayu Beri Tausiyah Pamungkas

Berita Utama
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

PA-SEKAYU.GO.ID – Bertempat di aula pertemuan PA Sekayu, yang juga disetting sebagai Mushalla itu, Rabu (29/05/19), dilaksanakan kegiatan Ramadhan terakhir bagi keluarga besar PA Sekayu. Kegiatan yang sudah dimulai sejak awal Ramadhan itu, sehari-harinya diisi dengan shalat zuhur berjama’ah dan dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh para hakim, panitera dan sekretaris. Dan hari itu, sebagai pamungkas, yang juga merupakan akhir dari kegiatan Ramadhan di kantor, Ketua PA bertindak sebagai imam shalat zuhur sekaligus menyampaikan tausiyahnya.

Setelah melaksanakan shalat zuhur bersama, dan langsung diteruskan dengan tausiyah Ramadhan, KPA Sekayu, yang pada hari itu, yang bertindak sebagai imam, pun juga sebagai pemberi tausiyah menyampaikan beberapa pesan penting dalam tausiyahnya. Dalam pesannya, beliau menyampaikan, bahwa sebagai seorang muslim sejati, kita wajib mengusahakan segala amal ibadah dan perbuatan kita itu, diterima oleh Allah swt. Dalam Bahasa fiqh, istilah diterimanya amal ibadah itu, akrab dengan sebutan syarthul qabul (syarat diterimanya sebuah amal perbuatan).

Terus, apa saja sih syarat diterimanya sebuah amal perbuatan?

Beliau melanjutkan, pertama. Al-ilmu. Ada pengetahuan. Segala amal perbuatan kita itu wajib ada pengetahuannya. Mau shalat, wajib tahu ilmunya, bagaimana cara shalatnya, apa saja jenis shalatnya, berapa pula jumlah rakaatnya, pun bagaimana cara melaksanakan shalatnya. Itu semua wajib diketahui terlebih dahulu sebelum melaksanakan amal ibadah shalat itu. Dalam kaidah ushul disebutkan, siapa saja yang beramal tanpa ilmu, amalnya itu ditolak dan tidak diterima.

Kedua, ikhlas. Beramal itu harus ikhlas. Ikhlas itu adalah sebuah kata yang mudah diucapkan, namun tidak mudah dilaksanakan. Banyak nasehat supaya kita selalu bekerja dengan ikhlas, agar hidup lebih tenang dan bahagia. Namun ternyata tidaklah mudah beribadah atau beramal dengan benar-benar ikhlas. Semua itu butuh latihan dan untuk menjadi orang ikhlash mulailah dari hal kecil, mulailah dari pekerjaan yang ringan, yang dilaksanakan dengan hati yang senang tanpa kedongkolan, lalu pelan-pelan berusaha untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih berat, tentu dengan hati yang senang pula, nanti pada saatnya, ikhlash itu akan terbiasa dengan sendirinya, dan akan membentuk kita menjadi orang yang benar-benar ikhlash.

Ketiga, dalam melaksanakan amal itu harus sesuai antara syarat, rukun dan adabnya. Kembali sebagai contoh ibadah shalat tadi misalnya, disyaratkan harus bersuci dulu sebelum dilaksanakan, tanpa bersuci (baca: berwudhu) tentu shalat kita tidak sah. Lalu kalau sudah bersuci baru bisa melaksanakan shalat, kemudian mengikuti rukun-rukunnya secara tertib mulai dari takbiratul ihram, baca surat al-fatihah hingga ditutup dengan salam. Kalau syarat dan rukun ini diikuti dengan baik, insya Allah amal ibadah kita diterima oleh Allah swt. Tapi jangan lupa dengan adab shalatnya, shalat juga harus memakai adab, adab berpakaian ketika menghadap Allah, adab pergerakan dalam shalat dan lainnya.

Keempat, tidak ada faktor yang membatalkan amal perbuatan itu. Seperti sambil shalat, kita juga berbicara dan berbincang-bincang dengan orang lain, atau keluar angin, maka batallah shalat itu.

Dan terakhir faktor halal yang terkait dengan amal ibadah itu. Jadi kalau ingin amal ibadah itu diterima dengan baik oleh Allah, maka seriuslah dengan persoalan yang halal itu. Makanan yang dimakan sebagai penunjang melaksanakan amal ibadah itu, wajib berasal dari yang halal. Sebab seperti yang dikatakan Rasul, satu suap saja makanan yang kita makan berasal dari sumber yang haram, maka tidak diterima Allah shalat kita selama empat puluh malam. Itu baru satu suap, sudah empat puluh malam tidak diterima ibadah kita, apalagi lebih dari itu. Termasuk juga pakaian yang kita gunakan untuk melaksanakan shalat itu, satu dirham saja kata Rasul, berasal dari sumber yang haram untuk membeli pakaian itu, maka tidak diterima shalat kita selama yang haram itu masih melekat pada pakaian itu.

Sebagai kesimpulan, untuk diterima amal ibadah itu, harus bersih jiwa kita lahir batin, dan amal itu dilaksanakan sesuai dengan syarat, rukun, adab dan tidak ada faktor yang membatalkannya.

Semoga melalui puasa Ramadhan ini, membentuk jiwa kita kembali kepada fitrahnya, melatih jiwa untuk ikhlas dan ringan dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya.

Taqabballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, minna wa minkum taqabbal ya karim.

(Humas PA Sekayu)